Merantau : Perjalanan Mencari Kehidupan yang lebih baik

· Travelling
Authors

“Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumuah : 10)

Pada waktu kecil, saya sering memperhatikan tukang kredit keliling disekitar desa saya (Desa Melirang, Kec. Bungah, Gresik, Jawa Timur). Kawasan di sepanjang sungai Bengawan Solo. Tukang kredit ini biasa disebut bank tetel karena setiap orang yang habis bayar cicilan pasti dikasih sobekan kertas tanda sudah bayar hari itu. Barang-barang yang dikreditkan biasanya berupa kebutuhan rumah tangga seperti panci, kompor dsb. Kebanyakan tukang kredit ini biasanya dari daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. Dari sini saya belajar, ternyata di desa saya juga bisa dijadikan tempat jujukan orang dari daerah lain untuk mendapatkan uang. Padahal banyak pemuda desa yang menganggur tidak mendapatkan kerjaan.

Pada saat saya di pedalaman papua, ketika sama-sama menunggu speed boat mau kembali ke kota jayapura. Saya bertemu orang-orang transmigran dari jawa. Dengan bahasa jawa, saya ngobrol dengan beliau tentang pekerjaanya dan asal tempat tinggalnya di jawa yang ternyata dari Semarang. Pekerjaan transmigran ini adalah bertani dan sebagai kuli pengangkut kayu. Para transmigran ini tanpa rasa malu melakukan pekerjaanya. Lain halnya denggan penduduk setempat yang banyak yang menganggur dan kalau dapat uang biasanya dipakai untuk mabuk.

Fenomena yang saya lihat ini hampir sama dibeberapa daerah yang saya kunjungi seperti Kalimantan dan Sulawesi. Dari sini saya bisa berpendapat bahwa orang-orang yang merantau/hijrah atau migrasi bisa bertahan hidup didaerah asing daripada daerah asalnya. Kenyataan ini disebabkan karena kebanyakan penduduk asal banyak yang terjangkit penyakit malas dan malu untuk melakukan pekerjaan yang sedikit berat. Lain halnya orang pendatang yang mau gak mau harus bekerja untuk bisa bertahan hidup tanpa rasa malu dan malas.

Awal keputusan saya merantau juga sebenarnya merupakan keadaan yang dipaksakan. Setelah lulus kuliah dan setelah melakukan berbagai tes masuk kerja saya akhirnya memilih berhijrah atau merantau ke daerah lain. Hal ini dikarenakan didaerah asal tidak ada lapangan pekerjaan yang sesuai dengan jurusan saya. Ada CPNS pun jumlahnya terbatas. Mau kerja yang tidak sesuai minat nanti juga dibuat bahasan orang asal. Mahal-mahal kuliah kerjanya cuman jadi ini jadi itu. Meskipun demikian masih ada keinginan untuk kembali ke daerah asal. Asal argonya pas. hehehe

Hijrah sudah ada pada zaman Nabi Muhammad SAW untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sehingga Allah pun menyarankan agar bertebaran kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah sebanyak-banyaknya.

Jadi, kalau memang kehidupan disini memang sudah tidak ada harapan, maka segeralah hijrah untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Di Indonesia, suku yang paling banyak merantau adalah suku Minang. Dimana-mana ada orang Minang. Apalagi dengan adanya sistem warisan Minang yang berhak atas harta warisan adalah perempuan, maka para pria diharapkan berjuang sendiri untuk kehidupannya.

Untuk di seluruh dunia, penduduk China yang paling banyak merantau hingga dimana-mana kita bisa bertemu orang China dengan beragam kewarganegaraan. Diantara orang Minang dan orang China ini ada kesamaan yang cukup melekat, yaitu mereka tidak meninggalkan bahasa ibunya. Mereka cukup teguh melestarikan budayanya.

*renungan orang perantauan

*Pancoran  Jakarta, Desember 2011

2 Comments

Comments RSS
  1. danang

    hidup para perantau…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: