Berpetualang di Pedalaman Papua

· Travelling
Authors

Hari itu hari senin, ketika saya masih di kos-kosan di kawasan keputih Surabaya. Sebagai seorang sarjana muda sambil mendengarkan lagu Iwan Fals Sarjana Muda yang belum mendapatkan pekerjaan, kerjaan saya hanyalah simatupang (siang malam tunggu panggilan). HP pun berbunyi, yang isinya adalah tawaran projek seminggu di Papua. Ketika itu bayangan saya tentang Papua adalah OPM, perang antar suku, dan pedalaman yang masih alami. Setelah berpikir dan mendapatkan ijin dari orangtua akhirnya saya putuskan untuk berangkat kesana.

Karena first flight, saya harus datang pagi-pagi ke bandara juanda. Dengan menggunakan pesawat merpati akhirnya saya terbang juga dengan rute Surabaya-Makasar-Timika-Jayapura. Sampai di Jayapura sekitar pukul 3 sore waktu setempat. Dari bandara sentani saya harus menempuh perjalanan lagi selama 2jam kekotaJayapura. Pemandangan yang sangat eksotis tersajikan mulai dari bentuk alamnya hingga danau sentani yang terkenal itu.

Tempat projek saya ternyata bukan di Jayapura, tetapi di Kabupaten Membramo. Sebuah kabupaten baru hasil pemekaran. Dikarenakan pada waktu itu pesawat perintis tidak tersedia alias kosong, terpaksa saya dan tim akhirnya melewati perjalanan darat. Rute yang kami tempuh adalah Jayapura ke kabupaten sarmi dengan mobil dengan waktu tempuh sekitar 7jam. Jangan dipikir jalanya mulus seperti di Jawa. Keadaanya ya seperti jalur offroad. Pemandangan yang tersaji semuanya hutan dan sesekali melihat orang berburu burung dipinggir jalan. Setelah sampai di Kabupaten Sarmi, kami harus naik speedboat lagi ke Membramo. Dengan melewati laut dan masuk sungai membramo ditempuh dalam waktu 8 jam. Benar-benar petualangan yang mengasyikkan.

 

 Persiapan menuju distrik Kasonaweja Kab. Membramo Raya

Muara Sungai Membramo

Siang itu akhirnya nyampai juga di ibukota Membramo yaitu distrik Kasonaweja. Kesan pertama yang saya dapat adalah ini ibukota kabupaten tapi kok masih besar Desa saya di Gresik. Setelah makan siang, ditemani penduduk sekitar saya langusng mengambil sample data dan mengelilingi Kasomweja. Betapa pemandangan yang sangat alami dan hutan yang masih perawan. Batu bara terkandung diatasnya terlihat kasat mata tanpa perlu digali lagi. Bensin disini sangat mahal sekali bisa 15 ribu rupiah per liter. Listrik juga adanya kalau malam saja itupun dari generator.

 Penulis (tengah) bersama penduduk setempat mengambil data

Suasana hutan di Kasonaweja

 Kantor Bank Papua Cabang Kasonaweja

Hari berikutnya selesai juga pekerjaan di Kasonaweja, dan akhirnya kamipun melanjutkan perjalanan ke Jayapura. Tapi dengan jalur udara melalui pesawat kecil di bandara perintis di Kasonaweja. Bandara perintis itu seperti lapangan bola yang memanjang tanpa aspal.

Bandara perintis Kasonaweja yang lebih mirip Lapangan Sepak Bola

Tips : Makan yang teratur jaga kesehatan biar tidak terkena Malaria

 

 

*Laut Jawa, Desember 2011

1 Comment

Comments RSS
  1. Evi

    Papua yang cantik dan pekerjaan yang menarik. Sayang yah mereka jauh banget dari tanah Jawa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: