Bali Part 1 : Backpacker Naik Motor

· Travelling
Authors

Hari 1

Ide perjalanan ini merupakan ide spontan. Yaitu mencoba keBali melalui jalan darat naik motor dengan biaya seminimal mungkin. Bersama teman saya Danang, akhirnya saya berangkat pagi hari jam 6 waktuSurabayanaik motor Supra (bukan promosi). Dari Surabaya-Banyuwangi ditempuh selama 7 -8 jam. Itupun setelah tiga kali berhenti mengisi BBM dan istirahat di POM (Pasti Pas).

Setelah membayar tiket Rp. 25 ribu (Motor+2orang penumpang), kami akhirnya naik ferry keBali. Satu jam berikutnya akhirnya sampai juga di Gilimanuk. Kami kemudian melanjutkan perjalanan kearah Bali Selatan melewati asrinya Taman Nasional Bali Barat-Tabanan-Denpasar. Jam 7 malam akhirnya kita nyampai juga di Denpasar. Dengan keadaan uang yang pas-pasan, akhirnya kita putuskan menginap di Loby gawat darurat RS. Sanglah Denpasar. Kita tidur di kursi panjang sambil melepas lelah dan menunggu esok hari.

Hari 2

Waktu subuh pun telah tiba, kita bergegas sholat dan mulai petualangan. Berbekal peta yang dipersiapkan sebelum berangkat. Tempat pertama yang dituju adalah pantai Sanur. Disini banyak sekali para wisatawan lokal terutama anak-anak sekolah dari Jawa yang berkunjung kesini menyaksikan  matahari terbit. Perjalanan dilanjutkan ke Nusa Dua Bali. Tempat ini merupakan tempat yang sering digunkan untuk konfrensi tingkat tinggi. Pantai disini juga bagus, tapi sayang pada waktu itu tidak ada ombak.

Perjalanan berikutnya adalah menuju ke Uluwatu. Letaknya paling selatan di PulauBali. Pantai ini banyak karang dan batu-batunya. Pantai ini banyak dikunjungi turis asing yang ingin menjinakkan ombak pantai ini untuk surfing. Jarang pengunjung wisatawan local yang ada disini. Rata-rata semua adalah surfer yang sudah mahir.

Dreamland. Itulah tujuan selanjutnya. Pantai ini katanya milik Tomy Soeharto. Pantai ini sangat bagus dengan pasir putihnya. Pantai ini juga sering digunakan untuk syuting FTV SCTV. Disini kita berenenang menikmati ombak dreamland. Harap hati-hati jika berenang dipantai ini. Karena bentuknya konturnya yang dalam tidak landai seperti di Pantai Kuta. Berenang ditengah hari bolong sangatlah melelahkan dan cukup menghitamkan kulit.

Target selanjutnya adalah Garuda Wisnu Kencana (GWK). GWK merupakan suatu kawasan batuan gersang yang disulap menjadi pusat seniBali. Ditambah ukiran-ukiran patung yang besar. Disini setiap sore biasanya ditampilkan pertunjukkan Tari Kecak. Tapi sayang waktu kita kesana terlalu siang jadi masih panas dan sepi. Banyak wisatawan local yang berkunjung disini sekedar jalan-jalan dan foto di belakang Foto patung. Biaya masuk komplek GWK ini sekitar Rp. 15 ribu. Setelah dari GWK, kita putuskan untuk istirahat karena sudah lelah.

Hari 3

Sekitar jam 8an
kita lanjutkan perjalanan ke Tanah Lot. Dibutuhkan waktu 3 jam dari denpasar untuk mencapai tempat ini. Setelah bayar tiket masuk akhirnya kita memasuki kawasan tanah lot. Jalan kearah area di desain agar pengunjung melewati semua pedagang kakilima. Disini kita menikmati pemandangan Pur

a yang berada diseberang pulau. Kita bisa merasakan semilir angin pantai dan menghilangkan penat. Diarea tanah lot ini pengunjung tidak diperbolehkan mandi. Karena jenis pantainya yang berkarang dan banyak batuanya.

Pantai Kuta. Itulah target terakhir di hari itu. Setelah melakukan perjalanan 2 jam akhirnya sampai juga di Kuta. Di Kuta ini cocok sekali untuk mandi dan melihat matahari terbenam. Dilokasi ini banyak sekali turis asing dan lokal tumplek blek disini. Dan tak lupa kita pun berenang menikmati ombak pantai kuta. Jarang sekali turis lokal yang mau berenang di pantai. Mereka biasanya hanya sekedar kecek atau membasahi kaki dibibir pantai. Padahal inikan merupakan wisata pantai yang bisa dinikmati bila kita merasakan deburan ombaknya bukan hanya sekedar foto-foto kemudian diupload di fesbuk (my opinion). Lelah juga setelah berenang.

Pada malam harinya kita mengunjungi kehidupan malam disekitar Legian. Disini kita mengunjungi Monumen Bom Bali, dan melihat-lihat kehidupan malam di kawasan legian. Saya menyimpulkan bahwa dikawasan ini lebih ramai justru pada malam hari. Dengan para turis asing yang mengunjungi club-club malam yang ada disini. Hingar bingar musik club juga terdengar disetiap jalan di kawasan legian.

Hari 4

Hari keempat adalah waktunya balik keSurabaya, Rute yang kami tempuh merupakan kebalikan dari rute pada waktu berangkat. Ketika memasuki wilayah Tabanan, tiba-tiba teman saya merasakan dejavu. Dia kemudian mengajak keliling desa Melingling di Tabanan. Katanya seperti desa yang ada di suatu novel. Entahlah novel apa itu. Sekian

Tips : Persiapkan Peta wisata. Rencanakan tempat tujuan berdasarkan yang terdekat.

 

 

*Laut Jawa, Desember 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: